Kesalahan Menonton Film Perang Banjar
Tips

Kesalahan Menonton Film Perang Banjar

Tepat pukul 9:30 Wita, tanpa pikir panjang bergegas mandi dan langsung ngidupin kendaraan butut saya. Berangkat bertiga bersama Kakak dan teman kost menuju Bioskop XXI Banjarmasin yang  saya sendiri sebenarnya jarang ke Bioskop. Keinginan yang begitu kuat, terlebih untuk tahu kisah perang banjar, terutama sosok seorang Pangeran Antasari yang melegenda.

Tibalah di bioskop, masuklah ke Studio 1. Perkiraan studio masih kosong, eh ternyata full habis. Entah lewat mana itu orang kok bisa tiba lebih cepat dari kami. Padahal sama-sama bareng masuk pintu masuk pas jam di buka. Kemungkinan karena yg hadir terlebih dahulu para Bapak/Ibu pejabat.

Source foto : Youtube (screenshoot)

Wajib bersyukur, karena film ini digratiskan. Lumayan kan hemat 60ribu kalau akhir pekan. Hehehe

Untunglah ada kursi kosong pas 3buah. Langsunglah kami duduk menikmati film keren ini.

Di awal cerita, sangatlah kental dengan budaya banjarnya, dimana ditampilkannya view-view yang oriental kearifan lokalnya, sederhana dan banjar banar. Dikisahkanlah cerita peperangan yang terjadi di abad 17 dan 18 oleh seorang Kakek, yang disapa Kai Birin.

Meninggalnya Sultan Adam yang mewariskan wasiat, menjadi perdebatan, dimana dalam wasiat tersebut dikisahkan bahwa yang akan mewarisi tahta kerajaan adalan Pangeran Hidayatullah. Di sisi lain, ada pangeran yang bernafsu ingin merebut kedudukan tersebut hingga dia mengkhianati rakyat banjar dan sekongkol dengan Walanda (Belanda), yakni Pangeran Tamjidillah. Dari sanalah mulai muncul konflik, dikarenakan rakyat Banjar serta keraton-keraton yang takut dengan pelanggaran surat wasiat yang ditinggalkan Sultan Adam, takut kena kutukan hingga warga sering melakukan sholat hajat agar tidak terkena kutukan.

Hingga diangkatnya oleh Belanda, Pangeran Tamjidillah sebagai raja, sedangkan Pangeran Hidayatullah hanya menjadi Mangkubumi.

Inilah yang menyebabkan  kekesalan warga, hingga pada akhirnya semua warga dikumpulkan dan dipimpin oleh Pangeran Antasari untuk menyerang Belanda.

Tiba-tiba saya tidak bisa melanjutkan tontonan konflik yang terjadi, dikarenakan mau buang air kecil, maklum orang kampung gak biasa kena AC. Besarnya antusias warga Banjar, hingga jalanan disamping kursi pun menjadi tempat duduk untuk nonton. Tambah pusing pula kepala saya, selain menahan mau kebelakang harus ngelewatin jejeran ibu ibu yang duduk di jalan.

Sepulang dari belakang, saya masuk lagi. Dan tak lama kemudian akhirnya tibalah konflik peperangan yang ditunggu-tunggu. Sorotan kamera dari atas menampilkan peperangan yang terjadi, nampak sedikit peran yang terlihat, tidak seperti layaknya perang. Terlintas dipikiran saya, seandainya diambil dari sisi bawah mungkin akan lebih greget, namun beberapa belakangan sebelumnya beredar kabar dana yang tersedia pun minim, jadi mungkin wajar pemerannya sedikit, bahkan ceritanya pemeran banjar sendiri ada yang belum menerima honor, mereka main karena ingin mengangkat kisah ini. Kita wajib berbangga sama mereka yang sudah mau mengambil peran dalam film ini.

Tak lama jelang saya duduk, filmnya habis. Dan diceritakan kembali oleh Kai Birin kepada anak-anak, kita tidak perlu mencari tahu siapa yang menang ataupun kalah, yang penting kita bisa mengamalkan semboyan Pangeran Antasari “Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing”.

Hingga film habis dan penonton pada pulang, sesampai dikost dan tulisan ini masih saya tulis, saya masih penasaran bagaimana kelanjutan dari peperangan tersebut, siapa yang menang, bagaimana keadaan kerajaan dan perebutan tahta yang diambil alaih oleh Pangeran Tamjidillah yang bukan penerus raja yang diwarisi Sultan Adam. Sebagai orang awam yang kurang hapal dengan kisah perang Banjar, saya sendiri penasaran, bagaimana ending selanjutnya? Apa mungkin nanti ada kelanjutannya?

Namun yang bisa kita ambil pelajaran, seorang sosok Pangeran Antasari yang ingin membela tanah kelahiran, beliau berperang dan tanpa memikirkan tahta, karena bagi beliau yang penting adalah kebebasan.

Memang pas nonton udah lega, tapi bagi kalian yang ingin nonton ke bioskop apalagi tidak terbiasa dengan AC, usahakan ke belakang dulu buang air kecil, jangan sampai kesalahan seperti saya ini terjadi pada kalian. Akhir kata, saya akhiri coretan ini dengan ucapan terima kasih dan meminta maaf jika opini saya kurang berkenan. Dengan adanya film dari Kalimantan ini, khususnya Banjar, bisa menjadi titik awal kebangkitan film-film nasional khususnya untuk mereka warga banjar yang menyukai dunia perfilman.

Thanks a lot !

2 Comments

Post Comment