Lombok, Wisata Unik dan Cocok bagi Kaum Jomblo
Adventure Travel Travelling

Lombok, Wisata Unik dan Cocok bagi Kaum Jomblo

Bicara mengenai wisata alam, Indonesia tidak pernah ada habisnya untuk dijelajahi. Perjalanan saya ke Lombok kemaren pun masih terasa sangatlah kurang. Perlu waktu yang banyak untuk bisa bercinta dengan alam di Lombok. Kebetulan sekarang sudah dibuka untuk rute penerbangan “Banjarmasin – Lombok” yang sebelumnya jika ingin berangkat, harus transit dulu. Terbilang murah sekali, karena kemaren saya mendapatkan tiket seharga 400ribuan untuk sekali penerbangan.

Pulau yang belum pernah saya injakkan kaki, hanya sering melihat hijaunya lautan dan putihnya pasir pantai melalui TV membuat saya bertekad untuk membuktikannya secara langsung apakah memang begitu demikian?

Beberapa tips dan trip mengenai Lombok yang akan saya ceritakan kali ini cukup simple, liburan dengan biaya minim dan puas tiada tandingannya. Lombok bukan hanya bercerita tentang pantai, tetapi juga keindahan alam lainnya seperti air terjun, hingga keunikan budayanya membuat saya kepengen jadi orang asli Lombok? terlebih jika jomblo, kenapa demikian?

Perjalanan kali ini saya bersama teman sebangku kuliah yang juga belum pernah ke Lombok. Berpetualang tanpa meninggalkan jejak, namun melukiskan kenikmatan dan rasa syukur terhadap ciptaan-Nya.

Sesampai di Bandara, kami berjalan kaki keluar sekitar 300 meter agar bisa pesan taksi daring. Seperti asumsi umum, taksi di Bandara biasanya lebih mahal dari yang lain, jadi ada baiknya cari yang murah meriah jika sedang berlibur.

Kenapa harus Senggigi? 

Malam pertama, sesuai jadwal yang kami rancang sebelum berangkat, kami memilih untuk bermalam di Senggigi, salah satu kota yang ada di Pulan Nusa Tenggara Barat. Kota ini sangatlah strategis jika menurut jadwal perjalananan yang kami buat. Terlebih untuk bisa explore ke destinasi wisata lain nantinya jika pakai motor.

Untuk kalian yang sedang berlibur di Lombok, jangan terlalu khawatir soal transportasi. Kebetulan kemaren sehabis pesan taksi daring, kami juga nego-negoan dengan drivernya untuk mengantar kami nantinya kesana kemari secara offline. Mas Arifin, orang asli Jawa yang kebetulan mengadu nasibnya di pulau seribu masjid ini. Mas Arifin udah sering ngantar tamu-tamu dari luar untuk keliling Lombok. Jadi bagi kalian yang bingung mau kemana, serahkan sama Mas Arifin, karena dia yang akan ngatur rute perjalanan dengan tepat dan hemat. (Kontak Mas Arifin : 0819 1795 9970)

Pelabuhan Bangsal

Hingga matahari terbit, kami pun beranjak menuju Gili Trawangan, tepatnya ke Pelabuhan Bangsal. Bagi kalian yang ingin Snorkeling di 3 Gili : Trawangan, Meno dan Air. Ada baiknya untuk berangkat pagi hari, setidaknya jam 9 sudah berada di pelabuhan Bangsal. Karena ada dua trip untuk Snorkeling : jam pagi dari 10 sampai 3 sore,  jam 12 sampai jam 5 sore.

Pesanlah tiket snorkeling terlebih dahulu. Untuk menikmati snorkeling di tiga pulau ini, cukup hanya dengan 100ribu (untuk trip pagi), 125ribu (untuk trip siang). Namun jika salah memilih layanan tripnya, mungkin ada yang lebih mahal dikit sekitar 150ribuan. Sebelum masuk ke area Pelabuhan Bangsal, di sebelah kiri jalan ada “Bunga Bunga Cafe”, kalian bisa mampir di sana karena ada teman saya Mas Amed Nula yang juga menyediakan beberapa layanan untuk wisata hingga transportasi. Di sanalah kami memesan tiket untuk snorkeling di Gili Trawangan, Meno dan Air. (Kontak Mas Amed : 087864820154). Jangan malu untuk bertanya seputar Lombok dengan Mas Amed, orangnya sangatlah ramah.

Untuk menyebrang ke Gili Trawangan di Pelabuhan Bangsal ada dua macam pilihan : public boat dan private boat. Belilah tiket untuk public boat dengan harga 15ribu rupiah saja per orang.

Sesampai di Gili Trawangan kami langsung ikut snorkeling di tiga pulau. Alhasil puas dengan keindahan bawah laut, namun sangat melelahkan dan hampir saja tenggelam 😀 :D. Ini adalah pertama kalinya saya snorkeling (desoo banget), jadi wajar kalau bisa ketelan air laut, langsung pusing berat.

Snorkeling Guys, ini saya motoin teman 😀

3 spot yang kami jelajahi cukup menyita tenaga banyak, hingga sesampainya diwaktu akhir, kami langsung mencari penginapan untuk beristirahat. Penginapan yang ada di Gili Trawangan relatif murah dari kisaran 150ribuan. Hal yang paling berkesan setelah bermalam disini adalah suasana sunset yang bagus dan malamnya yang sangat ramai serta kuliner yang tidak kalahnya sudah kami cicipi.

Keesokan paginya kami langsung kembali ke Senggigi, guna melanjutkan rute perjalanan kami pun bersiap-siap berkeliling kawasan senggigi dengan naik motor. Untuk rental motor disini biasanya disewakan dengan harga 70ribu perhari. Kalian bisa lebih bebas mau kemana naik motor, seperti halnya kami yang langsung menuju ke air terjun tiu kelep dan sendang gile di dekat gunung rinjani.

Air Terjun Sendang Gile

Dari senggigi menuju air terjun memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan, sepanjang jalan adem ayem dan banyak sekali kami menemukan masjid, pantas pulau ini dijuluki dengan seribu masjid. Lelah diperjalanan tak mematahkan semangat kami untuk menuju ke air terjun, rutenya cukup suram jika kalian mulai dari atas, dan jangan lupa untuk memakai sepatu atau sendal hiking, karena cukup berbahaya. Disini kalian akan ikut pemandu rute air terjun asli orang sana, sekitar 100ribu perorang.

Air Terjun Tiup Kelep

Lelah dan ketakutan kami terbayarkan dengan segernya air terjun disini, so guys kapan kita mandi bareng disini?

Tentu tak lazim jika tidak mengunjungi pantai-pantai yang ada di Lombok, ada baiknya jika kalian ingin ke pantai bisa ngatur waktu pas hari keberangkatan pulang, karena satu jalur seperti singgah di Desa Sukarare, Desa Sade, Pantai Tanjung Aan, Bukit Mandalika. Ya usahakan cari tiket untuk keberangkatan malam hari.

Berjemur di Bukit Mandalika

Untuk masalah keindahan pantai mungkin ga perlu saya bahas disini, biar kalian penasaran pengen ke Lombok 😀

Namun ada keunikan lainnya yang diawal saya sebutkan pengen tinggal disini jikalau masih jomblo. WHAT ?

Sebelum menyebutkan alasannya, ada keunikan yang saya temui di Desa Sukarare. Tenun, ya tenun. Disini masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai penenun, uniknya untuk seorang perempuan harus bisa menenun, jika tidak dia tidak bisa menikah. Hasil tenun disini bagus bagus guys, tidak berupa kain, tapi juga sarung, baju, dan sajadah.

Lihat si Ibu lagi nenun

Rute terakhir yakni Desa Sade, disinilah para jomblo bisa menikah? Adat istiadat masyarakat disini, kita sebagai mempelai pria tidak diperkenankan untuk melamar perempuan yang kita sukai. Lah malah susah?

Kok Panas ya?

Hal tersebut dianggap kurang sopan jika melamar datang seperti halnya adat di daerah lain. Jika untuk menikahi perempuan disini, cukup bawa mereka kabur tanpa sepengetahuan orangtua nya, keesokan harinya bakal direstui kok. Jadi orangtuanya pun gak tau anaknya dibawa kabur sama siapa. So, pilih aja yang sesuai kriteria ..wkwkkkk

Terakhir, disini saya pernah lihat bule Muallaf bro. Kayanya banyak yang beginian, Gimana ga jatuh hati kan? jadi pengen tinggal disini hahahaha

Akhir kata kami pulang ke kota seribu sungai dengan membawa sejuta kenangan, dan jangan lupa bawa kopi dari Lombok, enak banget. Sampai tulisan ini di publish, saya udah ngerasain kenikmatan kopi lombok.

 

2 Comments

Post Comment